Thursday, October 8, 2009

Musibah Cinta


Berat mata  yang memandang  sudah pasti lagi berat hati yang menanggung. Itulah perasaan saya ketika menatap SMS tentang  musibah yang menimpa seorang teman rapat.  Dalam deraian airmata saya membuka Youtube mencari sebarang nasyeed yang dapat meredakan perasaan saya. Maka terjumpalah lagu Musibah Cinta, liriknya pula bagaikan kena dengan apa yang saya rasa ketika itu.

Dingin deraian hujan di luar tingkap tak mampu mendinginkan hati saya . Airamata bagai tak dapat ditahan-tahan. Memang saya sangat sedih dan menangis sakan pagi itu. Tak pernah saya menangis begitu. Apa tidaknya ketika saya sedang teruja berbincang tentang jodoh dan rumahtangga dalam satu dua entree saya baru-baru ini, tiba-tiba berita ini tiba di pagi subuh yang hening. Hilang terbang segala semangat  pagi itu.

Disangka panas hingga ke petang rupanya hujan di tengah hari. Itulah yang saya mampu ucapkan.Rumahtangga yang dibina dengan impian untuk bahagia hingga ke syurga akhirnya terlerai juga. Berpuluh tahun bersama belum menjamin keutuhannya. Siapalah kita untuk menuding tangan menuduh siapa yang bersalah. Orang Islam adalah bersaudara. Cubit peha kiri peha kanan terasa sakitnya

Memang Islam menunjuk jalan keluar jika kita sudah tidak lagi dapat bernaung di bawah lembayung rumah tangga. Bercerai jalan yang terbaik walaupun ia adalah kalimah paling dibenci Allah, bergegar arasy bila cerai dilafazkan. Banyak hati-hati yang terusik dan terluka bila berlakunya perceraian. Namun terdayakah kita menahan takdir yang telah tertulis, maka lirik dalam Muhasabah Cinta memang menepati. Sakit yang kurasa jadi penawar dosa-dosaku. Tidak akan tercucuk duri seorang anak Adam melainkan Allah mengampun dosa-dosa kita.

Kesedihan dan kepedihan adalah peringatan dari Allah. Agar kita kembali mencari ketenangan dengan berkata-kata denganNya dalam sujud dan doa yang panjang. Saya percaya luka itu akan sembuh dengan perjalanan masa walaupun parutnya tetap  ada.

Bangunlah , wahai teman. Sekalah airmatamu .Hari semalam adalah kenangan dan esuk tetap menjanjikan kebahagiaan. Semua yang ada di dunia ini hanyalah pinjaman, bukan milik mutlak kita. Dipinjamkan seorang suami sekadar 28 tahun dan insyaallah jika kamu bersabar dengan musibah ini insyaallah Dia akan mengantikan dengan ganjaran pahala yang berganda bagi orang yang reda dan sabar.

Tinggalkan semua kesedihan itu walaupun bukan mudah melupakan orang yang telah berkongsi hidup dengan kita begitu lama sekali. Melihat anak-anak sudah pasti mengingatkan kepadanya. Demi mereka usirlah kedukaan itu. Jika perlu pergilah berjalan ke mana saja bumi Allah ini. Semuga perlarian sebentar dari dunia realiti akan dapat membuat kamu mencari diri dan memuhasabahkan semula cintamu kepada Allah. Tuhan yang telah memberi dan mencabut rasa cinta itu sendiri dari hati-hati kita

.Dari Allah dia datang kepada Allah jua dia kembali...

No comments: